Kemendikbud Rilis SEMESTA untuk Mendorong Ribuan SMA Praktik STEM secara Efektif

Jakarta – Penguatan pendidikan berbasis STEM (sains, teknologi, rekayasa, dan matematika) tidak dapat diandalkan hanya pada satu sekolah atau kelompok pengajar saja. Melalui inisiatif baru, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bertujuan untuk mendorong ribuan SMA di Indonesia untuk saling bertukar praktik baik, sehingga inovasi dalam pembelajaran dapat tersebar lebih luas dan merata. Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, keberadaan ribuan sekolah di Indonesia dapat menjadi kekuatan besar dalam mempercepat pertukaran pengalaman dan inovasi dalam pendidikan. Ia menekankan pentingnya berbagi praktik baik dari satu sekolah agar dapat dipelajari dan dikembangkan oleh sekolah lain. “Tidak mungkin satu sekolah menemukan 100 atau 1.000 inovasi. Namun, dengan adanya 7.000 sekolah, hal ini akan mempercepat proses pembelajaran,” ungkap Gogot dalam peluncuran program Semarak Pembelajaran STEM untuk Semua (SEMESTA) pada Selasa, 29 September 2026.
Program SEMESTA: Langkah Nyata untuk Pendidikan STEM
Program SEMESTA merupakan langkah konkret dalam memperluas gerakan STEM di tingkat SMA di seluruh tanah air. Didukung oleh Direktorat SMA, program ini dirancang agar gerakan STEM dapat berkembang di berbagai sekolah di Indonesia. Gogot menambahkan bahwa gerakan STEM nasional sebelumnya telah diinisiasi oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai momentum untuk mendorong pendidikan yang lebih responsif dan adaptif. Pembelajaran berbasis STEM diharapkan dapat membekali siswa dengan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan untuk memecahkan masalah yang kompleks.
Integrasi Pembelajaran STEM dengan Program Lain
Menurut Gogot, penguatan STEM tidak dapat dilakukan secara terpisah. Program SEMESTA perlu diintegrasikan dengan berbagai program pendidikan lainnya, termasuk pembelajaran mendalam, digitalisasi pembelajaran, pengenalan coding, serta kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). “STEM dan pembelajaran lainnya saling mendukung dan melengkapi. Ini semua untuk mempersiapkan generasi muda kita,” tegasnya.
- Pembelajaran berbasis STEM yang inovatif.
- Integrasi dengan program pendidikan lainnya.
- Peningkatan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas siswa.
- Pengembangan kemampuan memecahkan masalah.
- Adaptasi terhadap kemajuan teknologi.
Praktik Baik dan Pertukaran Pengalaman
Gogot juga menyoroti perlunya memberikan ruang bagi sekolah untuk menunjukkan dan membagikan praktik baik yang telah mereka terapkan. Hal ini diharapkan dapat menciptakan proses pembelajaran yang saling menguntungkan antar sekolah. Dengan semakin banyak sekolah yang terlibat, semakin banyak pula pengalaman dan inovasi yang dapat dibagikan dan dikembangkan. “Jika kita sudah memberdayakan diri dan mengintegrasikan semua sumber daya yang ada, kita perlu memberikan fasilitas bagi sekolah-sekolah kita untuk berbagi praktik baik,” jelasnya.
Menumbuhkan Semangat Berbagi dalam Pendidikan
Ketika berbicara tentang pertukaran praktik baik, penting untuk diingat bahwa gerakan STEM nasional tidak hanya ditujukan untuk sekolah-sekolah tertentu. Semangat dari program ini adalah untuk memastikan bahwa pembelajaran berbasis STEM dapat berkembang secara lebih luas dan merata di seluruh Indonesia. Pemerintah juga terus berupaya memperkuat ekosistem pendukung melalui digitalisasi pembelajaran.
- Papan interaktif digital untuk sekolah.
- Konten pembelajaran yang interaktif.
- Pelatihan untuk guru dalam mengimplementasikan STEM.
- Fasilitas teknologi untuk mendukung pembelajaran.
- Program pendidikan yang terintegrasi.
Transformasi Pendidikan melalui Digitalisasi
Dalam upaya mendukung program SEMESTA, sekolah-sekolah sudah mulai mendapatkan papan interaktif digital (PID) yang akan mempermudah proses pembelajaran. Selain itu, konten pembelajaran interaktif serta berbagai pelatihan bagi para guru juga tengah disiapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan pendekatan ini, diharapkan STEM tidak hanya menjadi program pembelajaran biasa, tetapi juga bagian integral dari upaya menyiapkan siswa yang siap beradaptasi dengan perubahan teknologi dan tantangan di masa depan.
Menghadapi Tantangan Masa Depan
Gogot menekankan bahwa pendidikan yang berkualitas harus mampu menjawab tantangan masa depan dengan mempersiapkan siswa untuk menjadi individu yang adaptif. Dengan mengintegrasikan berbagai program pendidikan dan memanfaatkan teknologi, diharapkan akan terbentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Kesimpulan
Dengan peluncuran program SEMESTA, Kemendikdasmen menunjukkan komitmen yang kuat dalam mengembangkan pendidikan STEM di Indonesia. Melalui pertukaran praktik baik dan kolaborasi antar sekolah, diharapkan pendidikan berbasis STEM dapat menjangkau lebih banyak siswa, memberikan mereka keterampilan yang diperlukan untuk masa depan, dan menciptakan generasi yang inovatif dan siap menghadapi tantangan global.
➡️ Baca Juga: BGN Menangguhkan Operasional SPPG Air Asuk di Kepulauan Anambas untuk Perbaikan
➡️ Baca Juga: Ketua DPRD Lampung Hadiri High Level Meeting TPID Jelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah




