NUS Business School Mengatur Penggunaan AI oleh Mahasiswa: Boleh Digunakan dengan Batasan Tertentu

Jakarta – Penerapan kecerdasan buatan (AI) telah merambah ke berbagai aspek kehidupan, termasuk sektor pendidikan. AI kini menjadi alat bantu yang dapat membantu mahasiswa dalam menyelesaikan tugas dan penelitian. Namun, penting untuk diingat bahwa penggunaan AI di kalangan mahasiswa harus diatur dengan ketat. Tujuannya adalah agar AI berfungsi sebagai pendukung proses belajar, bukan sebagai pengganti. National University of Singapore (NUS) Business School merupakan salah satu institusi yang mengizinkan mahasiswa untuk menggunakan AI dalam pembelajaran mereka, dengan beberapa batasan yang harus dipatuhi.
Integrasi AI dalam Kurikulum NUS Business School
Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, NUS Business School berkomitmen untuk mempersiapkan mahasiswa agar siap menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif. Baru-baru ini, NUS menjalin kemitraan dengan OpenAI untuk menyediakan akses kepada mahasiswa dan staf pengajar. “Kami berupaya mengubah kurikulum kami agar AI terintegrasi dalam pendidikan kami, dengan konsep ‘AI plus X’, yang mencakup berbagai bidang studi. Ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana AI digunakan dalam bidang tertentu, bagaimana AI dapat mentransformasi bidang tersebut, serta cara AI dapat berkolaborasi dengan disiplin ilmu tersebut,” jelas Tan Hong Ming, Asisten Dekan (Operasi Digital) NUS Business School, dalam sebuah diskusi dengan media di Jakarta.
Setiap program studi di NUS Business School diminta untuk menerapkan konsep ini, contohnya ‘AI plus Keuangan’, ‘AI plus Fisika’, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa mata kuliah inti harus mempertimbangkan dampak AI terhadap bidang studi tertentu dan bagaimana mahasiswa dapat memanfaatkan AI dalam konteks mereka masing-masing.
Struktur Penggunaan AI dalam Pembelajaran
NUS Business School telah mengembangkan beberapa tingkat integrasi AI dalam kurikulum, dengan target mulai dari 25% hingga 50%. Namun, universitas mendorong agar setiap mata kuliah inti setidaknya memiliki unsur AI di dalamnya. Meskipun mahasiswa diizinkan untuk menggunakan AI, Tan menekankan pentingnya pemahaman bahwa mengandalkan sepenuhnya pada AI akan menghambat proses belajar mereka. Oleh karena itu, banyak mahasiswa yang memilih untuk menyelesaikan tugas mereka secara mandiri.
Ujian dan penilaian tetap diadakan tanpa keterlibatan AI, untuk memastikan bahwa mahasiswa tetap belajar dan siap menghadapi tantangan akademis. “Ini mendorong mereka untuk tetap belajar dengan serius,” tambah Tan. Tugas rumah juga lebih difokuskan pada presentasi langsung dan penilaian yang diawasi, sehingga mahasiswa menyadari bahwa ketergantungan pada AI tidak akan membawa mereka pada keberhasilan akademis.
Evaluasi Kemampuan Mahasiswa dalam Menggunakan AI
Pihak NUS Business School juga telah merancang penilaian untuk menguji kemampuan mahasiswa dalam menggunakan AI. Penilaian ini bertujuan untuk mengevaluasi bagaimana mereka dapat mensintesis jawaban yang dihasilkan oleh AI, dengan memperhatikan prompt yang digunakan dan cara berpikir mereka. “Saat ini, sangat penting untuk melatih proses berpikir mereka. Di tingkat pendidikan tinggi, mahasiswa perlu memahami bahwa jika mereka hanya menggunakan AI untuk menjawab pertanyaan, mereka tidak akan belajar apa pun,” tegas Tan.
Pendekatan penilaian ini harus beradaptasi seiring dengan kemunculan AI. Mahasiswa kini lebih diarahkan untuk fokus pada ujian dan presentasi di dalam kelas, dengan lebih sedikit tugas yang dibawa pulang. Hal ini dimaksudkan agar mereka bisa lebih terlibat dalam proses belajar dan tidak terlalu bergantung pada alat bantu seperti AI.
Pendekatan Pembelajaran yang Berbasis Dasar
NUS Business School juga memberikan perhatian khusus pada pendidikan di tingkat yang lebih rendah, seperti sekolah dasar dan menengah. Tan memberikan contoh bahwa di tingkat ini, siswa diajarkan konsep dasar terlebih dahulu, sebelum diperkenalkan dengan alat bantu seperti kalkulator atau komputer. “Ada tingkat fundamental tertentu di mana tidak ada alat bantu yang diperbolehkan, agar fondasi dasar bisa terbentuk dengan baik,” jelasnya.
Di tingkat universitas, AI diperkenalkan sebagai alat bantu yang lebih canggih. Tan berpendapat bahwa pengenalan AI harus dilakukan dengan hati-hati, dan sebaiknya tidak dilakukan di tingkat pendidikan yang lebih rendah, karena potensi AI yang besar. “Jika diperkenalkan terlalu dini, siswa tidak akan mendapatkan manfaat maksimal dari pembelajaran,” ujarnya.
Biaya Penerapan AI dalam Pendidikan
Salah satu tantangan utama dalam penerapan AI di lembaga pendidikan adalah biaya yang tinggi. NUS, dengan lebih dari 30 ribu mahasiswa, harus mempertimbangkan anggaran secara cermat. Tan mengungkapkan bahwa ketika Fakultas Ilmu Komputer meluncurkan akses AI, ada mahasiswa yang menghabiskan sekitar SGD1.000 per hari untuk penggunaan AI. “Dalam waktu enam hari, biaya tersebut setara dengan biaya kuliah semester,” jelasnya. Oleh karena itu, NUS sangat berhati-hati dalam menyusun anggaran dan memperhitungkan biaya token untuk penggunaan AI.
NUS juga tidak memaksakan penggunaan AI dalam setiap aspek pembelajaran. Mereka sangat selektif dan strategis dalam menerapkan AI, melibatkan para ahli di setiap bidang untuk memikirkan cara penerapan yang paling efektif. Selain itu, penting untuk dicatat bahwa penggunaan prompt yang sama dapat menghasilkan jawaban yang serupa, sehingga perlu adanya tinjauan kurikulum yang cermat agar materi yang disampaikan tidak monoton atau berulang.
Pentingnya Evaluasi dalam Penggunaan AI
Di NUS, ada juga mahasiswa yang mungkin tidak sepenuhnya memanfaatkan kesempatan untuk belajar, sehingga penggunaan AI perlu dievaluasi secara terus-menerus. “Para pengajar terus menerus berpikir tentang bagaimana cara mengukur pembelajaran mahasiswa, bahkan ketika mereka dapat menggunakan AI,” pungkas Tan. Dengan demikian, NUS Business School berkomitmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang memanfaatkan AI dengan cara yang konstruktif dan produktif, membantu mahasiswa mempersiapkan diri untuk tantangan masa depan dalam dunia kerja yang semakin berbasis teknologi.
➡️ Baca Juga: Dua Kursi Direksi Perumda Tirta Pakuan Bogor Terisi, Satu Posisi Masih Dalam Pembahasan
➡️ Baca Juga: Perkembangan Rupiah Menguat, Tekanan Dolar AS Mulai Memburuk di Pasar Valas




