Ekonomi Berkembang, Lingkungan Terancam: Bappenas Dorong Transformasi Signifikan

Jakarta – Dalam menghadapi tantangan yang kian kompleks di era modern ini, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Leonardo A.A. Teguh Sambodo, menekankan pentingnya transformasi sistemik dalam pengelolaan ekonomi dan lingkungan. Hal ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya berkelanjutan tetapi juga selaras dengan upaya pelestarian lingkungan.
Urgensi Transformasi Ekonomi dan Lingkungan
Teguh mengemukakan bahwa pengelolaan ekonomi dan lingkungan harus dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dalam peluncuran Peta Jalan dan Rencana Aksi Ekonomi Sirkular (RAD-ES) untuk Provinsi Jawa Barat 2026–2045, ia menggarisbawahi bahwa transformasi sistemik ini harus mencakup seluruh rantai nilai. Ini meliputi:
- Desain produk yang bertanggung jawab
- Efisiensi penggunaan material
- Penerapan model bisnis sirkular
- Pemulihan sumber daya yang lebih efektif
Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat tercipta sinergi antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.
Dampak Global dan Risiko Pangan
Menurut analisis yang dilakukan oleh Kementerian PPN/Bappenas, kehilangan dan pemborosan pangan secara global menyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) antara 8–10 persen. Jika pola bisnis saat ini terus dipertahankan, Indonesia diprediksi akan mengalami peningkatan kehilangan pangan hingga 344 kilogram per kapita per tahun pada tahun 2045. Ini adalah angka yang sangat mengkhawatirkan dan menunjukkan perlunya penanganan yang lebih serius.
Masalah Sampah di Jawa Barat
Provinsi Jawa Barat diperkirakan akan menjadi salah satu daerah dengan volume sampah tertinggi di Indonesia, mencapai 3,4 juta ton pada tahun 2025. Dari total 27 kabupaten/kota di wilayah ini, 23 di antaranya telah dinyatakan dalam kondisi darurat sampah. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah harus menjadi prioritas utama dalam strategi pembangunan daerah.
Potensi Susut Pangan Nasional
Di tingkat nasional, diperkirakan bahwa susut dan sisa pangan mencapai antara 23–48 juta ton per tahun, dengan daerah Bandung Raya menyumbang sekitar 1,5 juta ton. Angka-angka ini mencerminkan tantangan besar bagi ketahanan pangan dan lingkungan.
Inovasi Melalui Ekonomi Sirkular
Menanggapi masalah tersebut, Teguh menekankan bahwa inovasi dalam pengelolaan sampah, khususnya melalui konsep ekonomi sirkular, sangat diperlukan. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru yang berkelanjutan.
Program FLOWER dan Dukungan Internasional
Pada kesempatan yang sama, diluncurkan program Food Loss and Waste Emission Reductions for Climate-Smart Foodsheds (FLOWER), yang merupakan inisiatif dari Global Green Growth Institute (GGGI) dan IKEA Foundation. Peluncuran ini menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi pertama di Indonesia yang memiliki dokumen perencanaan ekonomi sirkular di tingkat provinsi, menandai langkah signifikan dalam upaya mencapai keberlanjutan.
Peluang Ekonomi Baru melalui Ekonomi Sirkular
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Daerah Jawa Barat, Sumasna, menjelaskan bahwa penerapan ekonomi sirkular dan program FLOWER diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang terbuang hingga 45-50 persen. Ini tidak hanya akan menciptakan efisiensi dalam pengelolaan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.
Praktik Ekonomi Sirkular yang Mandiri
“Diharapkan ke depan, daerah dan pelaku usaha dapat melanjutkan praktik ekonomi sirkular secara mandiri dan memperluas penerapannya sesuai dengan kebutuhan wilayah,” ungkap Sumasna. Ini menunjukkan komitmen untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan di tingkat lokal.
Peta Jalan Ekonomi Sirkular untuk Pembangunan Daerah
RAD-ES Jawa Barat berfungsi untuk menerjemahkan kerangka ekonomi sirkular nasional ke dalam konteks kebutuhan pembangunan daerah. Peta jalan ini dirancang melalui peningkatan kapasitas perangkat daerah, validasi data, dan konsultasi publik, dengan fokus pada tujuh sektor prioritas yang meliputi:
- Pangan
- Plastik
- Tekstil
- Konstruksi
- Elektronik
- Otomotif
- Kertas
Ketujuh sektor ini dipilih berdasarkan kontribusinya terhadap perekonomian daerah serta potensi penerapan prinsip ekonomi sirkular yang tinggi.
Mendukung Pertumbuhan Ekonomi dan Pengurangan Emisi
Implementasi RAD-ES diharapkan dapat mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi Jawa Barat sebesar 5,2–6 persen dan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,65 persen pada tahun 2045. Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi selaras dengan upaya pelestarian lingkungan.
Dukungan dari Uni Eropa
Marco Bonetti, Kuasa Usaha ad interim Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, menekankan bahwa ekonomi sirkular adalah prioritas utama Uni Eropa. Ia menyatakan, “Uni Eropa bangga mendukung Jawa Barat dalam menerjemahkan kerangka nasional Indonesia menjadi rencana aksi tingkat provinsi, dengan fokus pada pengurangan susut dan sampah makanan.” Ini menunjukkan komitmen internasional dalam mendukung upaya keberlanjutan di Indonesia.
Pangan sebagai Sektor Prioritas
Pangan menjadi sektor yang paling mendesak untuk ditangani dalam konteks RAD-ES Jawa Barat. Mengingat pentingnya pangan bagi ketahanan masyarakat, upaya untuk mengurangi pemborosan dan meningkatkan efisiensi sangatlah krusial. Dengan pendekatan yang tepat, diharapkan sektor pangan bisa berkontribusi lebih positif terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan ekonomi berkembang Indonesia, khususnya di Jawa Barat, dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan. Transformasi sistemik yang dijanjikan oleh Bappenas dan dukungan dari berbagai pihak menunjukkan bahwa masa depan yang berkelanjutan bukan hanya sebuah harapan, tetapi sebuah kemungkinan nyata yang dapat dicapai melalui kolaborasi dan inovasi.
➡️ Baca Juga: Italia Berisiko Kehilangan Status Tuan Rumah Piala Eropa 2032 Jika Stadion Tidak Diperbaiki
➡️ Baca Juga: BRMP Maluku Luncurkan Pengembangan Benih Kacang Hijau Berkualitas Tinggi




