Pembangunan shelter sampah di Geopark Rinjani menjadi langkah strategis dalam mengatasi masalah sampah yang kian mengkhawatirkan di jalur pendakian Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dengan meningkatnya jumlah pengunjung, pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan menjadi sangat penting untuk menjaga keindahan alam dan kelestarian lingkungan. Melalui inisiatif ini, diharapkan pengunjung dapat lebih bertanggung jawab terhadap limbah yang mereka hasilkan.
Inisiatif Pembangunan Shelter Sampah
Pengelola Geopark Rinjani mengusulkan pembangunan shelter sampah sebagai solusi untuk mengurangi dampak negatif dari sampah di jalur pendakian. Konsep ini dirancang agar pendaki dapat mengumpulkan sampah di titik-titik yang telah ditentukan, sehingga memudahkan pengelolaan limbah.
Qwadru Putro Wicaksono, General Manager Geopark Rinjani, menjelaskan bahwa shelter ini akan ditempatkan di beberapa pos pendakian. Hal ini bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi pendaki dalam menyimpan sampah yang mereka bawa selama pendakian.
Tujuan dan Manfaat Shelter
Pembangunan shelter sampah ini memiliki beberapa tujuan penting, antara lain:
- Menyediakan titik kumpul sementara untuk sampah selama pendakian.
- Mendorong kesadaran pendaki untuk bertanggung jawab terhadap limbah yang dihasilkan.
- Mengurangi jumlah sampah yang tertinggal di jalur pendakian.
- Meningkatkan kualitas lingkungan di sekitar Geopark Rinjani.
- Mendukung upaya pelestarian alam dan ekosistem lokal.
Dengan adanya shelter sampah, diharapkan pendaki akan lebih terdorong untuk tidak membuang sampah sembarangan dan berpartisipasi dalam menjaga kebersihan jalur pendakian.
Kerjasama dengan Bappeda NTB
Geopark Rinjani telah menyampaikan konsep pembangunan shelter sampah ini kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTB. Kerjasama ini merupakan langkah penting untuk mendapatkan dukungan dan sumber daya yang diperlukan dalam implementasi proyek tersebut.
Qwadru menegaskan bahwa skema pembiayaan untuk pembangunan dan pengelolaan shelter masih dalam tahap kajian. Terdapat kemungkinan penerapan retribusi tambahan bagi pendaki, atau pengalokasian sebagian dari retribusi wisata pendakian untuk mendukung pengelolaan limbah.
Retribusi dan Pengelolaan Sampah
Meski biaya retribusi pendakian saat ini terbilang cukup tinggi, sebagian besar anggaran tersebut masih dialokasikan kepada pemerintah pusat. Qwadru mengungkapkan bahwa pengelolaan dana ini belum sepenuhnya optimal dalam mendukung penanganan sampah di lapangan.
“Biaya retribusi pendakian memang cukup lumayan, namun alokasinya tidak sepenuhnya kembali ke daerah. Kami perlu mencari cara agar ada dana yang tersedia untuk penanganan sampah,” ungkapnya.
Penerapan Teknologi dalam Pengelolaan Sampah
Dalam rangka meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah, Geopark Rinjani juga menawarkan pemanfaatan teknologi pesawat tanpa awak atau drone. Teknologi ini diharapkan dapat membantu dalam proses pengangkutan sampah dari tempat pengumpulan, mengingat tantangan berat yang dihadapi oleh tenaga manusia di medan yang sulit.
Dengan menggunakan drone, proses pengangkutan sampah bisa dilakukan dengan lebih cepat dan efektif, sehingga mengurangi kemungkinan sampah menumpuk di jalur pendakian.
Fokus Pembangunan Awal
Pembangunan shelter sampah ini tidak akan dilaksanakan di seluruh jalur pendakian secara bersamaan. Sebagai langkah awal, fokus akan diarahkan pada jalur yang paling banyak dilalui oleh pendaki, yaitu Sembalun di Lombok Timur dan Senaru di Lombok Utara.
Pentingnya Regulasi dan Pengawasan
Geopark Rinjani menggarisbawahi pentingnya penguatan regulasi, termasuk penerapan sanksi tegas untuk pelanggaran terkait pengelolaan sampah. Pengetatan pemeriksaan barang bawaan pendaki saat naik dan turun dari kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) juga menjadi salah satu langkah untuk mencegah terjadinya penumpukan sampah.
Regulasi yang ketat diharapkan dapat menciptakan kesadaran di kalangan pendaki untuk membawa kembali sampah mereka, serta mendorong pengunjung untuk lebih menghargai lingkungan sekitar.
Statistik Sampah Pendakian
Berdasarkan laporan statistik dari kantor Balai TNGR pada tahun 2025, tercatat bahwa sampah yang dihasilkan dari aktivitas pendakian mencapai 30,35 ton, sementara sampah non-pendakian berjumlah 1,19 ton. Dengan total kunjungan wisata pendakian sebanyak 80.214 orang dan kunjungan wisata non-pendakian mencapai 52.108 orang, angka ini menunjukkan betapa pentingnya upaya pengelolaan sampah di kawasan ini.
Dengan pendekatan yang terintegrasi dan kolaboratif, diharapkan pembangunan shelter sampah di Geopark Rinjani akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pengelolaan limbah, menjaga keindahan alam, serta berkontribusi pada pelestarian lingkungan di masa mendatang.
➡️ Baca Juga: AZKO Menggebrak Pasar Ritel dengan Konsep Toko Masa Depan: Transformasi Digital dan Pengalaman Pelanggan yang Dipersonalisasi
➡️ Baca Juga: 10 Rekomendasi Tempat Bukber Bekasi Ramadan 2026
