Menghadapi Tantangan Orangtua Saat Menerima Diagnosa Autisme pada Anak

Jakarta – Setiap orang tua pasti berharap anaknya tumbuh dengan sehat dan bahagia. Namun, ketika dokter menginformasikan bahwa buah hati mereka didiagnosis dengan autisme, banyak pertanyaan dan kekhawatiran muncul. Tantangan berat apa saja yang harus dihadapi orang tua dalam situasi ini?
Menghadapi Diagnosis Autisme: Tantangan Emosional Pertama
Wina Natalia, seorang penyanyi dan penulis buku, sekaligus ibu dari anak dengan autisme, berbagi pengalamannya. Menurutnya, tantangan terbesar bagi seorang ibu ketika menerima diagnosa autisme pada anak adalah menjaga kesehatan mental dan menenangkan diri sendiri.
“Setelah mendapatkan diagnosis itu, saya merasa yang paling sulit adalah menenangkan diri saya sebagai seorang ibu,” ungkap Wina saat berbincang setelah acara pembukaan Special Kids Expo (SPEKIX) Neurodiversity Expo 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, pada hari Sabtu.
Wina menceritakan bahwa ia membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk berdamai dengan kenyataan setelah anaknya, Sigra, diidentifikasi mengidap Autism Spectrum Disorder (ASD) pada usia tiga tahun. Masa-masa awal itu sangat menantang, karena ia merasa terjebak dalam rasa bersalah yang mendalam, seolah-olah ia bertanggung jawab penuh atas kondisi anaknya.
Perjuangan Dalam Diri Sendiri
“Selama setahun itu, saya terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Saya berpikir, ‘Saya yang salah sampai anak saya autis,’” kata Wina dengan mata berkaca-kaca.
Untuk memulihkan kondisi emosionalnya dan menerima kenyataan, Wina bahkan meminta bantuan dari seorang psikolog. Ia menyadari bahwa proses untuk berdamai dengan diri sendiri jauh lebih rumit dibandingkan menghadapi respons anaknya yang tidak menyadari perbedaannya.
“Saya pergi ke psikolog untuk bisa berdamai dengan diri sendiri. Jauh lebih sulit untuk menerima diri sendiri dibandingkan dengan anak, karena anak memiliki dunianya sendiri dan tidak menyadari bahwa mereka berbeda,” tambahnya.
Menemukan Dukungan dan Kekuatan
Meskipun mengalami masa-masa sulit, Wina segera menyadari bahwa larut dalam rasa bersalah dan penyangkalan tidak akan membantu perkembangan anaknya. Jika orang tua terus terpuruk, anak berisiko tidak mendapatkan penanganan yang tepat dan kehilangan kesempatan emas untuk intervensi terapi yang diperlukan.
“Untungnya, saya menyadari bahwa jika saya terlalu sedih, anak ini akhirnya tidak mendapatkan perhatian dan kita akan kehilangan momen penting untuk membantu dia lebih baik. Dari situ, saya bangkit,” ujar Wina.
Wina juga menekankan pentingnya dukungan dari keluarga. Kehangatan dan penerimaan dari kakak-kakak Sigra menjadi sistem pendukung yang sangat krusial dalam membantunya pulih dari keterpurukan mental.
Berbagi Cerita dan Inspirasi
Tepat satu tahun setelah diagnosis, saat Sigra merayakan ulang tahun ke-4, Wina merasa cukup berani untuk pertama kalinya membagikan kisah tentang kondisi istimewa anaknya kepada publik. Pengalaman ini bukan hanya sebagai bentuk penerimaan, tetapi juga sebagai cara untuk menginspirasi orang tua lain yang mungkin menghadapi situasi serupa.
Wina memberikan pesan penting kepada orang tua, terutama ibu-ibu yang baru saja menerima diagnosa serupa. Ia mengingatkan agar tidak menghukum diri sendiri ketika emosi negatif melanda, karena hal itu hanya akan memperburuk keadaan.
Kesiapan Menghadapi Tantangan Selanjutnya
Menerima diagnosa autisme pada anak adalah sebuah perjalanan yang penuh tantangan. Namun, dengan dukungan yang tepat dan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, orang tua dapat menjalani proses ini dengan lebih baik. Berikut adalah beberapa tantangan yang mungkin dihadapi orang tua dan cara untuk mengatasinya:
- Penerimaan Diri: Menghadapi kenyataan bahwa anak membutuhkan pendekatan dan perhatian khusus.
- Stigma Sosial: Menghadapi pandangan orang lain dan stigma yang masih ada di masyarakat mengenai autisme.
- Merencanakan Terapi: Menentukan jenis terapi yang paling sesuai untuk anak dan mencari profesional yang tepat.
- Menjaga Kesehatan Mental: Pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental orang tua agar tetap kuat.
- Komunikasi Keluarga: Membangun komunikasi yang baik dalam keluarga agar semua anggota saling mendukung.
Banyak orang tua merasa kesepian dan bingung di awal perjalanan ini. Namun, dengan berbagi pengalaman dan mencari dukungan, mereka dapat menemukan cara untuk mengatasi tantangan yang ada.
Bergandeng Tangan Dalam Perjalanan Ini
Penting untuk diingat bahwa tidak ada orang tua yang sendirian dalam perjalanan ini. Dengan membangun jaringan dukungan, baik dari keluarga, teman, maupun komunitas, orang tua dapat menemukan kekuatan yang diperlukan untuk menghadapi setiap tantangan yang muncul. Dukungan emosional dan berbagi pengalaman adalah bagian penting dari proses ini.
Pada akhirnya, setiap langkah kecil yang diambil dalam mendukung anak dengan autisme adalah langkah menuju masa depan yang lebih baik. Melihat kemajuan dan perkembangan anak, meskipun kecil, dapat memberikan kebahagiaan dan harapan bagi orang tua.
Dengan pengetahuan yang tepat dan dukungan yang kuat, orang tua dapat membantu anak mereka meraih potensi penuh mereka. Menerima diagnosa autisme pada anak bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan yang penuh cinta, dukungan, dan harapan.
➡️ Baca Juga: Kenang Mendiang Lula Lahfah, Reza Arap Mengungkapkan Izin untuk Move On
➡️ Baca Juga: Pemberdayaan Melalui Teknologi yang Efektif dan Tepat Guna untuk Kemajuan Bersama




