Kekeringan yang melanda Kabupaten Parigi Moutong di Provinsi Sulawesi Tengah telah mengakibatkan dampak serius terhadap lahan pertanian di daerah tersebut. Sekitar 1.400 hektare lahan pertanian teridentifikasi mengalami kesulitan akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Masalah ini tidak hanya mengancam hasil pertanian tetapi juga dapat berdampak pada pasokan air bersih bagi masyarakat setempat.
Kondisi Kekeringan di Parigi Moutong
Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong, Asbudianto, kekeringan ini disebabkan oleh absennya hujan sejak pertengahan bulan Juni 2026. Penurunan debit air di sejumlah wilayah semakin memperparah situasi, menyebabkan berkurangnya ketersediaan air yang vital bagi pertanian dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Wilayah Terdampak
Bencana kekeringan menyebar di sembilan desa yang terletak dalam tiga kecamatan: Mepanga, Bolano Lambunu, dan Tomini. Deskripsi mengenai daerah yang terkena dampak menunjukkan betapa luasnya masalah ini:
- Desa Kotaraya Induk
- Desa Kotaraya Barat
- Desa Kotaraya Timur
- Desa Kotaraya Selatan
- Desa Kotaraya Tenggara
- Desa Kayu Agung
- Desa Ogotion
- Desa Anutapura
- Desa Ambesia Barat
Dampak Terhadap Pertanian
Sektor pertanian adalah yang paling merasakan dampak dari kemarau panjang ini. Di Kecamatan Mepanga, lahan sawah yang mengalami kekeringan mencakup:
- Desa Kotaraya Induk: 100 hektare
- Desa Kotaraya Barat: 100 hektare
- Desa Kotaraya Timur: 400 hektare
- Desa Kotaraya Selatan: 200 hektare
- Desa Ogotion: 400 hektare
Jelas terlihat bahwa lahan pertanian di desa-desa ini terancam mengalami gagal panen yang dapat merugikan petani dan masyarakat secara keseluruhan.
Dampak pada Sektor Perkebunan
Selain sawah, sektor perkebunan juga tak luput dari dampak kekeringan. Di Kecamatan Bolano Lambunu, terdapat sekitar 80 hektare lahan di Desa Anutapura yang terpengaruh, sementara Desa Ambesia Barat di Kecamatan Tomini mencatat sekitar 20 hektare lahan yang juga mengalami masalah serupa. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kekeringan tidak hanya terbatas pada pertanian padi, tetapi juga pada tanaman perkebunan lainnya.
Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masyarakat
Masalah kekeringan ini tidak hanya berpengaruh pada sektor pangan, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Di Desa Kayu Agung, pasokan air bersih mengalami penurunan drastis, yang diakibatkan oleh berkurangnya debit air pada sumber utama. Saat ini, debit air di desa tersebut hanya tinggal sekitar 25 persen dari kondisi normal, yang mengakibatkan distribusi air bersih menjadi tidak optimal.
Kondisi Mendesak di Masyarakat
Di desa ini, terdapat dua kepala keluarga yang sangat membutuhkan pasokan air bersih dengan segera. Situasi ini menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan akan solusi untuk mengatasi masalah kekeringan yang melanda.
Tindakan dari BPBD dan Pemerintah
Meskipun belum ada laporan mengenai korban jiwa atau pengungsi akibat kekeringan ini, BPBD tetap berupaya mengatasi dampak yang semakin meluas. Tim Reaksi Cepat (TRC) bersama Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Sulawesi Tengah telah dikerahkan untuk melakukan kaji cepat dan meninjau lokasi-lokasi yang terdampak. Mereka berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk mencari solusi yang tepat.
Kebutuhan Mendesak di Lapangan
Berdasarkan hasil kaji cepat yang dilakukan, beberapa kebutuhan mendesak yang diidentifikasi oleh BPBD antara lain:
- Bantuan mesin pompa air (alkon)
- Pembuatan sumur bor
- Penyaluran pasokan air bersih
- Bantuan alat pertanian yang ramah lingkungan
- Program penyuluhan untuk petani mengenai teknik pengelolaan air
Dengan adanya langkah-langkah ini, diharapkan masyarakat dapat segera mendapatkan bantuan yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah kekeringan dan mempertahankan ketahanan pangan di wilayah tersebut.
➡️ Baca Juga: J&T Express Mengungkap 3 Kategori Produk Paling Laris Dikirim Selama Ramadan 2026
➡️ Baca Juga: Daftar Harga Kulkas 2 Pintu Sharp Terbaru 2026
