Hari Kunjung Perpustakaan semakin mendekat, dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan pameran yang bertajuk “Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran.” Pameran ini memiliki tujuan untuk menarik perhatian masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda, agar lebih mengenal dan menghargai kekayaan pengetahuan serta budaya yang ada di Nusantara. Melalui kegiatan ini, Perpusnas berusaha untuk mengedukasi dan menginspirasi generasi penerus untuk lebih mencintai literasi dan warisan budaya.
Pameran dalam Rangka Hari Kunjung Perpustakaan
Pameran ini dilaksanakan sebagai bagian dari perayaan Hari Kunjung Perpustakaan yang diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan koleksi perpustakaan sebagai sumber pengetahuan dan pembelajaran bagi publik. Kegiatan ini menekankan pentingnya perpustakaan sebagai tempat penyimpanan informasi yang berharga untuk masyarakat.
“Perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi, melainkan juga sebagai penjaga ingatan bangsa yang perlu dipelajari dan dipahami oleh generasi mendatang,” ungkap Suharyanto, Deputi bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas. Pernyataan ini menegaskan peran vital perpustakaan dalam menjaga warisan pengetahuan.
Pengalaman Interaktif dalam Pameran
Melalui pameran ini, masyarakat diharapkan dapat memahami bahwa perpustakaan tidak hanya menyimpan koleksi, tetapi juga menyediakan pengalaman yang lebih dekat, visual, dan mudah dicerna. Pameran “Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran” berfungsi sebagai jembatan antara generasi masa kini dan warisan pengetahuan yang ada di Nusantara.
Pameran ini menampilkan berbagai manuskrip Nusantara yang diakui dalam Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan Memory of the World (MOW). Suharyanto menjelaskan bahwa manuskrip tidak hanya dilihat sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai warisan intelektual yang merekam gagasan, pengetahuan, dan nilai-nilai masyarakat dari zaman ke zaman.
Manuskrip sebagai Pintu Masuk ke Identitas Bangsa
“Warisan dokumenter yang terdapat dalam manuskrip dapat menjadi sarana untuk memahami identitas, budaya, dan perjalanan bangsa kita,” tambahnya. Dengan mengupas nilai-nilai yang tetap relevan dengan kehidupan saat ini, pameran ini berupaya menggali lebih dalam makna dari setiap manuskrip yang ditampilkan.
Pameran ini didesain dengan pendekatan yang sederhana, komunikatif, dan interaktif. Berbagai reproduksi manuskrip, ilustrasi, infografis, dan elemen visual digunakan agar pengunjung dapat memahami kisah dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya dengan lebih baik.
Narasi Utama Pameran
Pameran ini terbagi dalam empat narasi utama yang menggambarkan kekayaan warisan Nusantara. Pertama, “Warisan Indonesia untuk Dunia,” yang memperkenalkan manuskrip sebagai rekaman perjalanan tokoh, peristiwa, gagasan, dan pengalaman masyarakat Nusantara. Ini mencakup berbagai cerita yang memiliki makna penting baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
- Karya Syekh Yusuf
- Bo Sangaji
- Sutasoma
- Babad Diponegoro
- Imam Bonjol
- Trunojoyo
Kedua, “Warisan Nilai Bersama,” mengajak pengunjung untuk melihat manuskrip sebagai media pewarisan nilai, pengetahuan, kepercayaan, dan tradisi dari generasi ke generasi. Contoh manuskrip yang diangkat dalam narasi ini mencakup Panji, Sri Tanjung, Bo Sangaji, Primbon Tengger, serta Warisan Syekh Burhanudin Ulakan.
Perempuan dalam Manuskrip
Selanjutnya, narasi ketiga, “Warisan Perempuan,” menyoroti bagaimana manuskrip merekam pengalaman, peran, suara, serta posisi perempuan dalam masyarakat pada masa lalu. Berikut adalah beberapa contoh yang diangkat: Simbur Cahaya, Sri Tanjung, dan Panji.
Terakhir, narasi keempat, “Warisan Karya Istimewa,” menghadirkan manuskrip dengan karakter unik dari sisi isi, bentuk, bahasa, serta tradisi intelektualnya. Manuskrip yang ditampilkan di sini antara lain Siksa Kandang Karesian, Babad Diponegoro, Nagarakretagama, La Galigo, Tambar Ni Hulit, Syair Hamzah Fansuri, dan Pecenongan.
Keempat narasi yang dihadirkan dalam pameran ini bertujuan untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap manuskrip. Para pengunjung tidak hanya diajak untuk melihatnya sebagai “benda tua,” tetapi juga memahami manuskrip sebagai sumber pengetahuan yang menyimpan kisah tentang manusia, masyarakat, pemikiran, nilai, dan pengalaman yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Memperluas Pemanfaatan Perpustakaan
Melalui serangkaian kegiatan ini, Hari Kunjung Perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai ajakan untuk mengunjungi perpustakaan, tetapi juga sebagai langkah untuk memperluas pemanfaatan perpustakaan sebagai ruang belajar, berkarya, berdiskusi, dan berinteraksi dengan berbagai pengetahuan yang ada.
Hari Kunjung Perpustakaan berawal dari gagasan Kepala Perpustakaan Nasional RI pertama, Mastini Hardjoprakoso. Pada tanggal 14 September 1995, Presiden Republik Indonesia saat itu, Soeharto, mencanangkan September sebagai Bulan Gemar Membaca serta Hari Kunjung Perpustakaan. Inisiatif ini menjadi momentum penting untuk mendorong masyarakat agar lebih aktif mengunjungi perpustakaan dan memanfaatkan koleksi yang ada.
Dengan pameran ini, Perpusnas berharap dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai literasi dan menghargai warisan budaya yang ada di Nusantara. Melalui pemahaman yang mendalam terhadap warisan pengetahuan, diharapkan generasi masa kini dapat membawa nilai-nilai tersebut ke masa depan.
➡️ Baca Juga: Aturan Baru Ojol Diterbitkan, Pemerintah Utamakan Perlindungan untuk Pengemudi dan Kurir
➡️ Baca Juga: Raih Kesempatan Wara-wiri Jakarta H+1 Lebaran Hanya dengan Rp1, Simak Syaratnya Disini
