Halo Pengunjung

Hobi hutang

  • 0 Jawaban
  • 213 Dilihat
*

Bezimeni ID

  • *****
  • 390
  • +0/-0
    • Lihat Profil
    • Laundry Indonesia
  • Facebook: https://www.facebook.com/laundryblogger
Hobi hutang
« pada: Juni 16, 2019, 11:55:50 AM »
Aku dan Rika, teman sekantorku itu, memang berbeda. Dia selalu tampil istimewa dengan barang-barang brandednya sementara aku lebih suka tampil sederhana dan apa adanya. Dia berangkat dan pulang kantor diantar jemput suami dengan mobilnya, sementara aku selalu sendiri dengan motorku.

 Tapi akhir-akhir ini Rika terlihat lesu. Dia bilang mobilnya itu hilang. Mobil itu dipinjam teman suaminya tapi nggak dibalikin, dan nggak ada kabar hingga sekarang. Aku juga nggak habis pikir kenapa dia bisa dengan mudah minjam-minjamin mobil. "Yah ..., namanya juga temen, jadi ya percaya aja ...," gitu kata Rika.

Rika temanku itu makin pusing karena mobilnya masih kredit, jadi walaupun sudah hilang dia dan suami masih harus bayar kreditnya. Pernah suatu kali dia dan suami harus bayar cicilan kredit tapi lagi nggak punya uang, trus suaminya pinjam uang di bank. Nggak disangka, dalam waktu tiga bulan hutangnya bukan cuma beranak tapi bercucu, sehingga hutang Rika dan suami sekarang udah mencapai sembilan digit. Ya, itu kata Rika, sekali lagi itu kata Rika.

 Suatu hari notifikasi whatsapku berbunyi. Rika memohon padaku untuk meminjam uang. "Nggak banyak kok ..., cuma dua juta saja," begitu katanya. Aku memilih untuk nggak membalas whatsap dia dan nggak meminjamkan uang padanya. Kata teman kantorku yang lain,Heni, dia juga pernah bilang mau hutang Heni tiga juta, tapi Heni juga nggak mau memberi hutang padanya. "Dia aja udah hampir setahun pinjam uang Ana tujuh ratus lima puluh ribu, sampai sekarang nggak dibalikin. Kalau ditagih bilangnya ,'Cuma tujuh ratus lima puluh ribu aja ribut'. Kalau tujuh ratus lima puluh ribu pakai 'cuma', kenapa nggak dibalikin-balikin juga ...," begitu kata Heni.

Nggak lama setelah peristiwa whatsap mau hutang itu Rika sudah tampak ceria, mobilnya sudah baru lagi. "Cie ciee ..., rejekinya udah lancar ni ye ...," ledekku saat dia muncul di kantor dengan senyum sumringahnya.

"Alhamdulillah ...," jawabnya dengan senyum mengembang.

"Ssstt... Gimana dengan cicilan kredit mobil yang hilang? Sudah lunas?" bisikku. Aku berani bertanya seperti ini karena dia sering cerita tentang keluhan cicilan kreditnya padaku.

"Suamiku udah bikin surat kehilangan dari kepolisian, jadi kami dapat keringanan bayar cicilan. Trus kami beli mobil lagi deh ...," jawabnya ceria.

"Lunas?" tanyaku.

"Kredit ...," bisiknya.

 Aku duduk disampingnya, berusaha menasehati,"Trus gimana dengan cicilan lainnya Rik? Udah lunas?"

"He he he, belum ..."

"Maaf ni Rik, bukan aku lancang ya.... Aku mau ngomong buat kebaikan kamu, menurutku kalau kita punya cicilan kredit banyak ada baiknya kita berhemat. Kalau beli mobil baru kayaknya kurang efektif ...."

"Kamu reseh amat sih! Mau hutang, mau tidak, ini urusanku sendiri. Nggak usah ikut campur masalah pribadi ya."

Aih aih.... Ternyata Rika mulai nge gas, aku memilih untuk buru-buru kabur ke mejaku dan meneruskan data-data yang sedang kukerjakan dengan laptop ku.

Hari-hari setelah itu Rika tetap terlihat cemerlang dengan barang-barang branded dan mobilnya. Entah dari mana dia mendapatkan benda-benda itu. Yang jelas hutangnya pada Ana yang 'cuma' tujuh ratus lima puluh ribu itu sampai sekarang belum dibayar.

Beberapa tahun setelah itu. Aku sudah nggak kerja di kantor itu lagi.

"Mbak, pernah kerja di PT Bla bla ya? Kenal sama Rika?" tanya Lisa, tetangga baruku.

"Iya dulu kenal. Kenapa?"

"Tau nggak mbak, dia sekarang lagi ada kasus lho, dia pacaran sama suami orang."

 "Astaghfirullahaladzim.... Tapi Rika kan udah punya suami," jawabku.

"Itulah mbak ...., udah punya suami kok ya masih mau ambil suami orang. Tapi bisa jadi karena mereka konflik terus, suami Rika kan banyak hutang mbak. Eh Rika juga ding. Pokoknya hidup mereka aneh, hutang sana hutang sini, gali lubang tutup lubang. Bikin drama macem-macem biar bisa dapat uang. Trus pacar Rika yang sekarang itu kan orang kaya, bisa jadi Rika macarin dia biar ada yang bayarin hutangnya. Padahal mbak ..., katanya istri pacar Rika tu sedang sakit parah."

"Ya ampuun ..., kok gitu banget sih Si Rika."

"Ya begitulah mbak, aku sama suamiku aja pernah jadi korban Si Rika. Mobil dia dijual buat bayar hutang, eh dia bilang ke orang-orang katanya suamiku pinjam mobil dia tapi nggak dibalikin. Suamiku kan dulu temen suaminya Rika mbak," cerita Lisa panjang lebar.

"Ya ampun ..., banyak banget masalah dia ya Lis .... Buat pelajaran kita aja Lis, jangan sampai sembarangan berhutang apalagi yang berbunga, karena dari hutang itu bisa menimbulkan masalah yang lain. "

"Iya ya Mbak ..., betul."

 Dan dalam hati aku bersyukur dengan didikan orang tuaku. Kata mereka setiap remahan roti yang kita miliki kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Semakin banyak yang kita miliki semakin berat juga tanggung jawab kita. Setiap muslim wajib berusaha kaya, karena dengan kekayaan yang kita miliki kita akan semakin mudah melakukan kebaikan. Tapi alangkah baiknya jika kekayaan ini berasal dan digunakan dari dan untuk sesuatu yang bisa kita pertanggungjawabkan. Dan aku memilih untuk hidup sederhana tapi bersih dari hutang riba daripada bermewah-mewahan tapi terlilit hutang
Diah Lucky
« Edit Terakhir: Juni 16, 2019, 11:59:24 AM oleh Bezimeni ID »
Jual peralatan dan perlengkapan laundry 085773009666