slot depo 10k slot depo 10k
Hiburan

Ernest Prakasa Mengungkapkan Alasan Mengapa Ia Sering Menggarap Film Bernuansa Batak

Jakarta – Ernest Prakasa, co-founder dan produser dari rumah produksi Imajinari, baru-baru ini menjelaskan alasan di balik pilihan tematik yang selalu mengedepankan nuansa Batak dalam karya-karya filmnya. Terbaru, ia terlibat dalam produksi film drama musikal Batak pertama di Indonesia yang berjudul Pulang Kampung, yang ditulis dan disutradarai oleh komika Bene Dion Rajagukguk. Sebelumnya, Imajinari telah meraih kesuksesan dengan film-film bertema serupa seperti Ngeri-Ngeri Sedap (2022), Agak Laen (2024), dan Agak Laen 2 (2025), yang berhasil menarik perhatian jutaan penonton di bioskop Tanah Air.

Motivasi di Balik Tema Batak

Dalam sesi jumpa pers yang berlangsung di Studio Sepat 72, Jakarta Selatan, pada 17 April 2026, Ernest membagikan pandangannya mengenai pemilihan tema Batak dalam film-film yang diproduksi oleh Imajinari. Ia menegaskan bahwa pendekatan ini tidak hanya berakar dari tradisi atau budaya semata, tetapi juga dari hubungan kreatif yang erat dengan Bene Dion, yang merupakan bagian dari keluarga besar mereka di HAHAHA Corp.

“Sebenarnya, alasan mengapa kami terus mengangkat tema Batak adalah karena Imajinari merupakan bagian dari keluarga yang lebih besar, yaitu HAHAHA Corp, di mana Bene Dion termasuk di dalamnya,” ungkap Ernest. “Bene telah menjadi talenta yang lama berada di dalam keluarga HAHAHA Corp, sehingga ruang kreatif yang diberikan sangat selaras dengan latar belakang serta keresahan yang ingin disampaikan oleh sang kreator,” tambahnya.

Ekspresi Budaya Melalui Film

Ernest menjelaskan bahwa film bernuansa Batak bukan hanya sekedar produk hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk mengekspresikan cerita yang relevan dan kuat. “Selama ide dan cerita yang diusung memiliki daya tarik, kami akan terus mendukung karya tersebut. Jika Bene ingin bercerita dan berkarya dalam konteks yang berkaitan dengan batak, kami akan selalu siap mendukungnya,” jelas Ernest.

  • Pendekatan berbasis komunitas dalam penggarapan film
  • Peran Bene Dion sebagai kreator utama
  • Dukungan penuh dari Imajinari
  • Pentingnya cerita yang kuat dan relevan
  • Keselarasan nilai-nilai budaya dengan tema film

Produksi Film Pulang Kampung

Film Pulang Kampung yang disutradarai oleh Bene Dion ini juga melibatkan Kristo Immanuel sebagai ko-sutradara dan kembali menggandeng Viky Sianipar untuk menggarap musik film. Proses produksi dijadwalkan dimulai pada 23 April 2026 dan akan berlangsung selama 26 hari, dengan pengambilan gambar dilakukan di lokasi-lokasi ikonik di Sumatera Utara seperti Danau Toba dan Pulau Samosir, serta di Jakarta.

Kriteria Pemilihan Pemeran Utama

Menariknya, Bene menetapkan kriteria khusus untuk jajaran pemeran utama film ini, yakni mereka harus memiliki marga Batak dan kemampuan bernyanyi. Dari proses casting, dua talenta muda yang terpilih untuk menjalani debut layar lebar mereka adalah Axelo Nababan sebagai Daniel dan Vanessa Zee sebagai Uli, yang keduanya merupakan jebolan ajang pencarian bakat Indonesian Idol musim ke-13.

Peran Komunitas dalam Film Bernuansa Batak

Pentingnya penggarapan film dengan nuansa Batak tidak hanya terbatas pada aspek hiburan, tetapi juga mengedukasi penonton mengenai budaya dan tradisi Batak. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa tema Batak terus diangkat oleh Imajinari. Film-film tersebut berfungsi sebagai platform untuk menyampaikan kisah-kisah yang mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat luas.

Melestarikan Budaya Melalui Film

Film bernuansa Batak yang diproduksi oleh Imajinari menjadi sarana untuk melestarikan budaya yang kaya dan beragam. Dengan menjadikan cerita-cerita Batak sebagai fokus utama, Ernest dan timnya berupaya membawa budaya ini ke dalam ruang yang lebih luas, sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan, tidak hanya oleh mereka yang memiliki latar belakang Batak.

Respon dan Antusiasme Penonton

Film-film yang dihasilkan oleh Imajinari dengan tema Batak telah menerima respon positif dari penonton. Banyak yang merasa terhubung dengan cerita yang disajikan, terutama bagi mereka yang memiliki ikatan emosional dengan budaya Batak. Hal ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan yang mendalam bagi masyarakat untuk melihat diri mereka terwakili dalam karya seni.

Menjalin Koneksi Emosional

Ernest percaya bahwa film yang baik adalah film yang mampu menjalin koneksi emosional dengan penontonnya. Oleh karena itu, setiap elemen dalam film, mulai dari cerita, karakter, hingga musik, dirancang untuk menciptakan pengalaman yang menyentuh hati. “Kami ingin penonton tidak hanya menonton, tetapi juga merasakan dan terhubung dengan kisah yang kami sajikan,” ungkap Ernest.

Kedepan: Rencana Imajinari dan Karya-karya Baru

Dengan kesuksesan yang telah dicapai, Ernest dan tim Imajinari berencana untuk terus mengembangkan tema-tema yang relevan dengan masyarakat, termasuk yang berkaitan dengan budaya Batak. Mereka percaya bahwa dengan terus berkarya dan mengekspresikan kisah-kisah dari budaya lokal, mereka dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan perfilman di Indonesia.

“Kami berkomitmen untuk terus mendukung karya-karya yang memiliki kekuatan cerita dan daya tarik. Kami ingin menjadi bagian dari ekosistem kreatif yang terus tumbuh dan berkembang,” ujar Ernest menutup wawancara.

➡️ Baca Juga: Analisis Mendalam: Raket Badminton Harga 1 Jutaan dengan Nilai Tertinggi di Tahun Ini

➡️ Baca Juga: Pendaftaran Mudik Gratis Pemprov Jabar Masih Dibuka Hingga 12 Maret 2026

Related Articles

Back to top button