Manajemen

Bagaimana Membuat Prosedur Operasional Baku (SOP) Laundry Secara Profesional

Standard Operating Procedures SOP Laundry List

Standard Operating Procedure (SOP) pada laundry adalah petunjuk langkah demi langkah yang telah dirumuskan oleh perusahaan untuk membantu kegiatan rutin. SOP atau prosedur operasional baku bertujuan untuk efektivitas, hasil yang berkualitas dan keseragaman mengurangi miskomunikasi dan kegagalan akibat kesalahan prosedur. Oleh karena itu laundry perlu merumuskan agar menjadi pedoman baku pagi pegawainya. Bagaimana cara membuatnya?

Membuat SOP laundry tergantung kepada kebutuhan laundry itu sendiri. Setiap pengusaha sebagai owner memiliki gaya dan selera masing-masing untuk menentukan yang cocok diterapkan pada usahanya. Biasanya penerapan operasional baku berawal dari kebiasaan yang berulang dan mempelajari kesalahan lalu merumuskan dalam bentuk tulisan agar kesalahan tidak terulangi lagi. Penerapan SOP laundry secara sederhana terlihat adanya peringatan yang ditempel pada dinding atau ditulis pada papan board agar menjadi perhatian pada pegawai lainnya.

Untuk menjadi acuan pagi semua pegawai diperlukanlah rumusan apa saja yang perlu menjadi pedoman. Diskusikan secara berkelompok atau buatlah forum kecil untuk menyempurnakannya. Anda bisa pergunakan grup pada Facebook yang dikhususkan buat kalangan tersendiri agar komunikasi berjalan dan saling melengkapi.

Mulailah berdiskusi seputar apa saja yang diperlukan semisal bila ada pelanggan datang, apa yang harus dilakukan dan bagian apa yang nanti yang akan menyambutnya. Ucapan apa yang akan dilakukan terhadap pelanggan tersebut agar merasa nyaman dan disambut dengan baik.

Setelah bagian penerimaan bisa merambah ke bagian yang lain yang bisa meliputi quality control, manajemen sumber daya manusia, manajemen pembukuan, bagaimana takaran chemical laundry, wet clean dan deskripsi pekerjaan yang lebih luas.

Berikut ini contoh sebuah SOP laundry untuk bagian penerimaan pelanggan yang juga merangkap kasir.

  1. Cucian kotor diterima oleh bagian penerima pelanggan yang biasanya merangkap bagian kasir.
  2. Tanyakan kepada pelanggan mengenai pakaian yang akan dicuci, apakah ada yang mudah luntur warnanya, atau ada yang harus dicuci khusus untuk menghindari kesalahan pencucian.
  3. Konsumen diminta menunggu ditempat yang telah disediakan sambil membuatkan nota.
  4. Cucian tersebut kemudian ditimbang dan dihitung jumlah unit pakaian.
  5. Setelah ditimbang, dibuatkan nota pembayaran, nota tersebut berisi nama, alamat serta nomor telpon pelanggan, berapa jumlah kilogram dan berapa jumlah unit pakaian, dan berapa total pembayarannya, serta keterangan lain (jika diperlukan).
  6. Jika terdapat layanan pemilihan pewangi pakaian, pelanggan dipersilakan untuk memilih pewangi sesuai yang diinginkan pelanggan. Dan ditulis dalam nota pembayaran tersebut.
    Nota pembayaran rangkap ke-1 tersebut kemudian diberikan kepada konsumen.
  7. Jika konsumen membayar lunas dimuka, maka nota tersebut dicap “LUNAS” oleh bagian penerimaan pelanggan.
    Jika konsumen belum membayar, maka pembayaran dapat dilakukan pada saat pengambilan cucian.

Untuk bagian pencucian bisa Anda lihat contoh berikut ini.

  1. Cucian ditempatkan dalam kerangjang khusus sesuai dengan nama konsumen.
  2. Untuk memudahkan identifikasi, setiap pakaian diberi nomor urut. Dan nomor urut tersebut ditulis pada nota rangkap ke-2.
  3. Cucian yang mudah luntur dicuci tersendiri.
  4. Proses cuci dilakukan dengan menggunakan mesin cuci yang tersedia dengan standar penggunaan bahan cuci yang tidak berbahaya, tidak menimbulkan kerusakan pada pakaian maupun warna pakaian.
  5. Pengeringan cucian juga dilakukan menggunakan mesin cuci tersebut.
  6. Jika proses cuci tersebut telah selesai, maka cucian bersih kemudian diambil dari mesin cuci dan dimasukkan kedalam keranjang sesuai nama konsumen untuk selanjutnya disetrika.

Bagian penyetrikaan

  1. Box berisi cucian bersih tersebut kemudian dimasukkan ke ruang setrika untuk disetrika.
  2. Penyetrika harus menyetrika satu keranjang sampai selesai sebelum beralih kepada keranjang lainnya untuk menghindari tertukarnya pakaian antara konsumen yang satu dengan konsumen yang lain.
  3. Cara menyetrika yang baik adalah dengan memperhatikan bahan kain yang akan disetrika, misalnya untuk bahan kain yang tipis atau sutra, cara menyetrika tidak boleh terlalu panas. Sedang untuk pakaian berbahan jins, setrika dengan panas secukupnya. Oleh karenanya pengetahuan tentang berbagai jenis pakaian atau kain mutlak untuk dimiliki.

Bagian penyerahan

  1. Konsumen yang akan mengambil cucian, diminta menunjukkan nota rangkap ke-1.
  2. Setelah itu petugas mengambil cucian pada tempat penyimpanan sesuai dengan nota yang ditunjukkan konsumen.
  3. Jika konsumen belum membayar (nota belum distempel lunas), maka petugas wajib mengingatkan konsumen untuk melakukan pembayaran.Setelah pembayaran selesai, nota tersebut di cap “LUNAS”.
  4. Kemudian cucian yang sudah selesai diproses tersebut kemudian diserahterimakan kepada konsumen.
  5. Konsumen dipersilakan untuk mengecek pakaiannya, apakah telah sesuai.
  6. Jika telah selesai, nota rangkap ke-1 (yang telah dicap “TELAH DIAMBIL” diserahkan kepada konsumen, sedangkan nota rangkap ke-2 diarsipkan sebagai bukti transaksi.

Demikianlah prosedur operasional baku (SOP) pada laundry secara garis besar, Anda bisa menambahkan untuk penyempurnaan.

4 Comments

Paling Populer

To Top
error: Konten Dilindungi !!