Sumber Daya Manusia

Nasib Pekerja Laundry Di Hari Buruh Dan Saat Pandemi

Pekerja laundry di hari buruh

Laundry Indonesia – Hari Buruh baru saja diperingati di seluruh dunia termasuk di Indonesia yang belum lama resmi menjadi hari libur nasional. Biasanya setiap tahun dirayakan hingar bingar dan banyak massa turun ke jalan menyarakan aspirasi pekerja. Tapi saat ini terlihat sepi hingar-bingar saat pandemi Covid-19 melanda seluruh negeri dan dunia. Bagaimana dengan nasib pekerja laundry di hari buruh dan saat pandemi wabah penyakit virus corona ini?

Jangan harap pekerja/buruh laundry terutama kiloan bersuka cita sewaktu berlangsungnya hari buruh saat keadaan normal sebelum wabah keparat ini. Yang sudah-sudah mereka (pekerja laundry) sebagai penonton saja, tidak bisa beraspirasi menyuarakan haknya yang dikebiri seperti minimnya gaji, kelebihan jam kerja, upah lembur, hak cuti dan kesejahteraan pekerja.

Dengan alasan laundry adalah sektor informal dan jenis UMKM, banyak rekan pekerja mendapat gaji yang tak layak di bawah upah minimum reguler/propinsi (UMP). Penulis lihat sangat langka sekali menemukan pekerja laundry mendapatkan kesejahteraan yang layak terutama di ibukota Jakarta dan daerah penyangga seperti Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang.

Anda bisa tanya langsung ke mereka betapa mereka tidak mendapat perhatian dari owner sang pemilik. Gaji minim, waktu kerja yang panjang, hak lembur, hak cuti dan lainnya tidak pernah dipikirkan. Bagaimana dengan usaha laundry Anda?

Laundry Sepi Saat Pandemi, Pekerja Mau Makan Apa?

Di saat pandemi saat ini, semua usaha kena imbasnya termasuk laundry. Semua mengeluh sepi. Hal ini menyebabkan pekerja laundry juga banyak kehilangan pendapatan karena banyak usaha laundry yang memilih tutup, merumahkan bahkan memecat yang selama ini setia membantu kelangsungan hidup kita.

Sepinya usaha laundry bak kuburan bisa diungkapkan oleh ibu Caroline dari Medan ini. Usaha laundry kiloan yang baru berjalan dua bulan dekat kampus USU (Universitas Sumatera Utara) yang pangsa pasarnya mahasiswa universitas tersebut. Semua mahasiswa pulang kampung pada masa COVID-19 ini sehingga otomatis tidak ada pemasukan, kalaupun ada paling 5 kg kain, itupun sangat jarang. Bulan lalu ibu tersebut meminjam koperasi untuk membayar gaji karyawan. Dia masih memikirkan karyawannya karena bingung tidak bisa kasih THR dan gaji, sedangkan kalau dirumahkan kasihan mau makan apa.

Dari sekian tanggapan ada yang menarik yang diutarakan oleh pengusaha laundry MA Siahaan, “Sekuat tenaga jangan dirumahkan, mending cari pinjaman atau apapun yg penting jangan PHK, karena karyawan adalah aset” Dia berujar lagi kehilangan karyawan sama seperti kehilangan aset berharga sehingga perlu dipertahankan aset tersebut.

Banyak juga yang menyarankan ubah sistem kerja jadi borongan. Gajian berdasarkan apa yang dia kerjakan, misalnya upah gosok Rp 1500 per kilogram. Banyak juga yang menyarankan dirumahkan dulu karena keadaan wabah ini dan semua usaha laundry memang sepi. Tapi kalau dirumahkan, jangan lupa berikan gaji dan pesangon seperti yang diutarakan Bapak E. Saputro, “kalo mau dirumahkan ya dirumahkan, diberikan gaji/pesangon sebagaimana mestinya yg penting layak.serta si karyawan diberikan pengertian ttg kondisi sekarang ini seperti apa makanya dgn berat hati ya harus di rumahkan…….”

Beri Hak Karyawan, Jangan Sampai Kita Zholim

Tegas, demikian yang diutarakan oleh ibu Evi ini menangapi komentar yang bersliweran. Walaupun laundry digoncang pandemi, bila karyawan dirumahkan maka berikan hak upah dan pesangon seperti komentar positip yang diutarakan seorang netizen di atas.

Walaupun orderan laundry sepi karena sama-sama punya usaha laundry kiloan yang kebanyakan mahasiswa dan sopir angkutan umum dan mereka semua libur akibat corona, tapi Dyaeh Aries merasa sayang terhadap karyawan. Dan pada akhirnya penanya menyadari pentingnya sebuah aset “Cari karyawan jaman sekarang jg gk mudah, jika sdh ada yg loyal dan jujur itu aset berharga, smga saat jaya dan saat susah tetap bisa bersama”.

Seorang ibu bernama EE Simangungsong berujar, “…efek corona laundry jadi sepi tapi suami tetap mau ngasih gaji karyawan full karena katanya itu hak karyawan. Buka laundry hanya cukup bayar gaji karyawan, untuk menutupi pinjaman modal pun kurang”

Kita berharap wabah ini cepat berlalu sehingga aktivitas bisa normal, omzet meningkat dan kesejahteraan karyawan lebih diperhatikan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + 1 =

Paling Populer

To Top
error: Konten Dilindungi !!