kpkgg
Nasional

Riset BRIN Ungkap Pola Sebaran PM2.5 Karhutla yang Ganggu Negara Tetangga di Asia Tenggara

Setiap tahun, kabut asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia tidak hanya mengganggu kesehatan masyarakat lokal tetapi juga melintasi batas negara, berdampak pada negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Fenomena ini menjadi perhatian serius, terutama dalam konteks polusi udara yang dapat memengaruhi kualitas hidup banyak orang. Dengan meningkatnya kasus kebakaran lahan, penting untuk memahami pola sebaran PM2.5 yang dihasilkan dari karhutla ini.

Pemetaan Pola Sebaran PM2.5

Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) yang berada di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melakukan penelitian mendalam untuk memetakan penyebaran partikel halus PM2.5 yang berasal dari kebakaran hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi wilayah yang menjadi sumber utama emisi PM2.5, serta memahami bagaimana partikel ini bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Pentingnya Partikel PM2.5

Partikel PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat dengan mudah masuk ke dalam sistem pernapasan manusia. Menurut peneliti ahli muda di PRIMA, Ardhi Adhary Arbain, ukuran partikel ini menjadikannya sebagai salah satu fokus utama dalam isu kualitas udara. Ketika partikel ini terhisap angin dan melintasi batas negara, maka masalah ini berkembang menjadi polusi lintas batas yang berpotensi mengancam kesehatan masyarakat di negara-negara tetangga.

Model Simulasi WRF-Chem

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pergerakan polutan, Ardhi menggunakan model atmosfer WRF-Chem. Model ini menggabungkan simulasi kondisi meteorologi dengan proses kimia di atmosfer. Data emisi dari berbagai sumber, ditambahkan dengan informasi meteorologi, dimanfaatkan untuk mensimulasikan penyebaran dan transformasi polutan di atmosfer.

Penggunaan Data Penginderaan Jauh

Dalam penelitian ini, data emisi yang dihasilkan dari kebakaran lahan juga dikombinasikan dengan data penginderaan jauh dari satelit, seperti Sentinel dan MODIS/VIIRS. Tujuan dari penggabungan data ini adalah untuk membangun inventaris emisi PM2.5 yang lebih akurat, yang bisa digunakan untuk memahami pola sebaran polutan secara lebih menyeluruh.

Faktor yang Mempengaruhi Sebaran PM2.5

Hasil simulasi awal yang dilakukan menunjukkan bahwa arah dan kecepatan angin menjadi dua faktor penting yang menentukan wilayah yang terdampak oleh polusi PM2.5. Sebagai contoh, pada bulan Agustus 2026, arah angin dominan bergerak dari tenggara dan berbelok ke arah timur laut setelah melewati ekuator. Pola ini memungkinkan partikel PM2.5 dari kebakaran di Indonesia untuk menyebar ke negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, dan Thailand.

Konsentrasi PM2.5 di Wilayah Sumber

Simulasi juga mengindikasikan adanya konsentrasi PM2.5 yang tinggi di wilayah sumber, khususnya di Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Di beberapa lokasi dekat dengan sumber kebakaran, konsentrasi partikel yang terukur dalam simulasi bahkan mencapai lebih dari 7.500 mikrogram per meter kubik. Pada titik tertentu, nilai maksimum simulasi pada akhir Agustus menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, yaitu lebih dari 12.000 mikrogram per meter kubik.

Perbandingan dengan Tahun Sebelumnya

Menariknya, ketika dibandingkan dengan Agustus 2015, sebaran PM2.5 pada tahun 2026 dalam simulasi terlihat lebih terlokalisasi. Namun, konsentrasi di beberapa titik sumber diperkirakan lebih tinggi. Terdapat pula indikasi bahwa kontribusi sumber polutan di Papua Selatan menjadi lebih signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2015.

Validasi dan Pengembangan Model

Penting untuk dicatat bahwa hasil penelitian ini masih merupakan tahap awal dan belum divalidasi sepenuhnya. Ini berarti bahwa hasil simulasi yang ada belum dibandingkan secara menyeluruh dengan data pengamatan lapangan, sehingga tingkat akurasi model masih perlu dipastikan. Oleh karena itu, angka dan pola sebaran yang dipaparkan saat ini belum dapat diperlakukan sebagai ukuran kualitas udara aktual di setiap lokasi.

Pengembangan Pendekatan Pemodelan Baru

Ke depan, tim peneliti di PRIMA berencana untuk mengembangkan pendekatan pemodelan lainnya guna meningkatkan efisiensi simulasi. Salah satu pendekatan yang sedang dipertimbangkan adalah penggunaan model kimia CHIMERE secara offline. Dengan cara ini, proses meteorologi dan kimia dapat dijalankan secara terpisah, memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam penelitian.

Diskusi dan Kolaborasi Antarpeneliti

Kajian mengenai pola sebaran PM2.5 ini juga menjadi salah satu topik yang dibahas dalam forum Coffee Morning yang diadakan oleh PRIMA. Forum ini berfungsi sebagai platform untuk berbagi pengetahuan antarpeneliti serta untuk mengonsolidasikan berbagai kegiatan riset yang dilakukan di lingkungan PRIMA.

Kesimpulan Sementara

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, menyatakan bahwa forum seperti ini sangat penting untuk menguatkan kolaborasi dan memperkuat pemahaman tentang isu-isu yang berkaitan dengan perubahan iklim dan kualitas udara. Dengan berinvestasi dalam penelitian dan kolaborasi, kita dapat lebih siap menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan dampaknya terhadap kualitas udara di kawasan Asia Tenggara.

➡️ Baca Juga: Bank Indonesia Tegaskan Uang Digital Tidak Akan Menggantikan Uang Tunai di Indonesia

➡️ Baca Juga: Ketahanan Pangan Terancam El Nino, Pemerintah Harus Bertindak Cepat untuk Mengatasi Masalah Ini

Related Articles

Back to top button