slot depo 10k slot depo 10k
Ekonomi

Banjir Bandang Serang Nepal-Tibet, 1.500 Orang Dilaporkan Hilang

Dalam beberapa hari terakhir, Nepal dan Tibet telah dilanda bencana yang sangat tragis berupa banjir bandang, yang telah menyebabkan hilangnya sekitar 1.500 orang, sebagian besar di antaranya adalah wisatawan. Pihak berwenang melaporkan bahwa jumlah korban tewas awal mencapai 165 orang, dan tim penyelamat saat ini tengah berjuang keras untuk menemukan orang-orang yang hilang di daerah pegunungan yang terkenal di kalangan pendaki dan peziarah. Di antara para korban yang hilang, terdapat ratusan warga negara dari berbagai negara, termasuk India, Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Kanada. Video yang beredar di media sosial menunjukkan momen menakutkan saat dinding air besar menghancurkan segalanya di jalurnya, menciptakan pemandangan yang mengerikan dan menakutkan bagi mereka yang berusaha melarikan diri.

Deskripsi Bencana dan Dampaknya

Bencana ini telah menyebabkan kerusakan yang parah, dengan jalan-jalan, rumah-rumah, dan proyek pembangkit listrik tersapu bersih oleh arus yang sangat kuat. Di sisi Tibet, pihak berwenang melaporkan kekhawatiran akan adanya “korban besar” akibat tanah longsor yang terjadi di perbatasan. Di daerah terdampak, banyak rumah, kendaraan, dan pepohonan terendam atau terkubur dalam puing-puing.

Helikopter telah dikerahkan untuk membantu dalam upaya penyelamatan, mengangkut korban selamat dan memberikan bantuan kepada mereka yang terjebak di lokasi bencana. Data yang diperoleh dari kepolisian dan pejabat pariwisata menyebutkan bahwa hampir 600 orang asing termasuk dalam jumlah 826 orang yang dinyatakan hilang di Nepal. Di antara mereka yang belum ditemukan, terdapat 177 orang asal India, 63 dari Amerika Serikat, 34 dari Australia, 33 dari Inggris, dan 25 dari Kanada. Sementara itu, media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa sedikitnya 558 orang hilang di sisi Tibet, dengan 260 di antaranya merupakan warga negara asing.

Penyebab Banjir Bandang

Awalnya, pejabat Nepal mencurigai bahwa gempa bumi yang terjadi di wilayah tersebut bisa menjadi penyebab runtuhnya bagian bawah gletser, yang kemudian memicu banjir. Namun, Survei Geologi AS memperjelas bahwa apa yang dilaporkan sebagai gempa berkekuatan 4,4 skala Richter sebenarnya adalah guncangan yang diakibatkan oleh runtuhnya batuan glasial dan es. Studi awal menggunakan citra satelit menunjukkan bahwa longsoran es dan batu memicu banjir yang penuh dengan puing-puing di Sungai Lhende, yang terletak sekitar 20 km dari perbatasan Nepal-Tiongkok di Rasuwagadhi.

Para ahli menyatakan bahwa risiko kejadian bencana seperti ini diperburuk oleh kondisi topografi Himalaya yang ekstrem, yang membuat kawasan tersebut sangat rentan terhadap bencana alam.

Kisah Para Penyintas

Di tengah bencana ini, banyak orang yang selamat berbagi pengalaman mengerikan mereka. Salah satu penyintas, Bibek Kumal, seorang buruh yang berada di hilir distrik Rasuwa, menceritakan bagaimana ia terpaksa berlari saat dinding air mendekat. Dalam keadaan putus asa, ia terlempar ke dalam arus deras yang dipenuhi lumpur dan puing-puing, namun berhasil selamat dengan berpegangan pada pohon mangga. “Seandainya tidak ada pohon mangga, saya pasti terhanyut hingga mati,” katanya.

Keshav Prasad Baral, seorang penyintas lainnya yang berusia 68 tahun, menggambarkan momen penuh ketegangan ketika ia mencoba menyelamatkan istrinya dari arus lumpur. “Saya berusaha meraih tangannya untuk membawanya ke teras, tetapi ia tersapu lumpur. Beberapa jam kemudian, helikopter datang untuk menyelamatkan saya, namun istri saya masih hilang,” ucapnya dengan penuh kesedihan.

Respon Internasional dan Upaya Penyelamatan

David Fisher, Kepala Palang Merah Internasional, mengungkapkan betapa parahnya dampak dari bencana ini, dengan seluruh desa dan kawasan pasar yang hancur. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, juga menegaskan bahwa tim PBB sedang memobilisasi sumber daya dan personel untuk membantu masyarakat yang terkena dampak di Nepal. Pemerintah AS telah mengumumkan bantuan darurat sebesar $500.000 untuk mendukung upaya penyelamatan.

Pihak berwenang di Tibet telah mengerahkan hampir 800 pekerja darurat serta 150 kendaraan, anjing pelacak, dan perahu cepat untuk membantu dalam operasi penyelamatan. Presiden Tiongkok, Xi Jinping, menekankan bahwa upaya paling mendesak adalah mencari dan menyelamatkan orang-orang yang hilang, mengingat situasi yang semakin parah.

Situasi di Lapangan dan Keterbatasan Akses

Di daerah yang terdampak, warga terlihat berkumpul di luar pusat pelatihan tentara Nepal, yang berfungsi sebagai pangkalan operasi penyelamatan helikopter. Mereka mencatat nama-nama anggota keluarga yang hilang di luar gerbang barak, dengan harapan mendapatkan informasi terkini. Dalam situasi yang gelap tanpa aliran listrik akibat kerusakan infrastruktur, obor dari ponsel menjadi satu-satunya sumber cahaya untuk melihat sekitar.

Perusahaan tur, Himalayan Glacier, melaporkan bahwa 47 orang, termasuk dua anak, hilang dari salah satu kelompok yang mereka kelola di Nepal. Para wisatawan yang hilang tersebut mencakup 15 warga Australia, 10 warga Kanada, sembilan warga Nepal, delapan warga Amerika, dua warga Inggris, dua warga Singapura, dan satu warga negara ganda Rusia-Amerika, menurut informasi dari direktur pelaksana perusahaan, Sanket Pandey.

Respon Pemerintah dan Keluarga yang Khawatir

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyatakan keprihatinan mendalam terhadap keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta mereka, dan menegaskan bahwa mendapatkan informasi mengenai status mereka yang hilang masih menjadi tantangan besar. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, harapan akan kabar baik tetap ada, meskipun kenyataan di lapangan sangat sulit dan penuh tantangan karena terkendala oleh infrastruktur yang hancur dan medan yang sulit dijangkau.

➡️ Baca Juga: Malut United dan PSM Makassar: Hasil Pertandingan 6 Gol Seimbang 3-3, Juku Eja Terhindar dari Kekalahan

➡️ Baca Juga: Parimo Fokus Kembangkan Durian, Dari Kebun Hingga Menjadi Mesin Ekonomi Lokal

Related Articles

Back to top button