AirNav Indonesia Teken Kerja Sama Strategis dengan ICAO untuk Perkuat Sistem Keselamatan Penerbangan

Keselamatan penerbangan merupakan salah satu aspek krusial dalam industri dirgantara global. Dalam upaya memperkuat sistem keselamatan tersebut, AirNav Indonesia telah menjalin kerjasama strategis dengan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) untuk mengimplementasikan sistem manajemen risiko kelelahan, yang dikenal dengan Fatigue Risk Management System (FRMS). Kerjasama ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan navigasi penerbangan di Indonesia, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional.
Kolaborasi Strategis AirNav Indonesia dan ICAO
AirNav Indonesia telah menugaskan sejumlah tenaga ahlinya untuk berperan sebagai Regional Officer dalam Program Performance-Based Navigation (P-4) di Kantor ICAO Sub Regional Asia Pasifik yang berlokasi di Beijing, China. Langkah ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif untuk memperkuat sistem navigasi penerbangan secara keseluruhan.
Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avirianto Suratno, menyatakan bahwa kerjasama ini difasilitasi oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas layanan navigasi penerbangan di tingkat nasional. Keterlibatan ini juga menunjukkan komitmen AirNav Indonesia dalam memperkuat peran strategisnya di arena global.
Tujuan dan Manfaat Kerjasama
Melalui kerjasama ini, AirNav Indonesia tidak hanya ingin menegaskan posisinya sebagai entitas proaktif di forum internasional, tetapi juga mendukung peningkatan citra Indonesia dalam pengelolaan penerbangan internasional. Hal ini termasuk upaya menuju pencalonan Indonesia sebagai Anggota Dewan ICAO.
Penandatanganan kerjasama berlangsung pada acara ICAO Global Implementation Support Symposium (GISS) 2026 di Maroko, yang diadakan pada 14-16 April 2026. Nota kesepahaman tersebut ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal ICAO, Juan Carlos Salazar, dan Direktur SDM dan Umum AirNav Indonesia, Didiet KS Radityo, disaksikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Achmad Setiyo Prabowo.
Peningkatan Kapabilitas Melalui Transfer Pengetahuan
Partisipasi AirNav Indonesia dalam inisiatif ini selaras dengan strategi perusahaan untuk memperluas pengaruh internasional, memperkuat posisi Indonesia dalam forum ICAO, serta mendorong penerapan praktik terbaik global dalam manajemen lalu lintas udara (ATM). Dengan terlibat aktif dalam organisasi internasional, diharapkan akan ada nilai tambah melalui transfer pengetahuan dan pengalaman yang dapat meningkatkan kapabilitas internal perusahaan.
- Penguatan hubungan kelembagaan dengan ICAO.
- Peningkatan keselamatan dan efisiensi sistem penerbangan.
- Implementasi praktik terbaik dalam manajemen lalu lintas udara.
- Pengembangan kapasitas dan kompetensi personel.
- Mendukung pencalonan Indonesia di Dewan ICAO.
Momentum ini juga menegaskan komitmen AirNav Indonesia sebagai penyedia layanan navigasi udara (ANSP) yang aktif dalam mendukung keselamatan dan keberlanjutan sistem penerbangan global. Capt. Avirianto menekankan bahwa langkah ini sejalan dengan rencana strategis ICAO 2026–2050, khususnya dalam aspek keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan penerbangan.
Implementasi Fatigue Risk Management System (FRMS)
Implementasi FRMS diharapkan mampu meningkatkan keselamatan dan efisiensi operasional, serta mendukung kesejahteraan personel yang terlibat dalam layanan navigasi penerbangan. Kesejahteraan ini merupakan faktor kunci dalam penyelenggaraan layanan yang andal dan berkualitas.
Dalam konteks penerbangan, FRMS merupakan pendekatan sistematis yang berbasis data dan ilmu pengetahuan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi, memonitor, dan mengurangi risiko kelelahan fisik maupun mental yang dialami oleh awak pesawat dan personel operasional. Sistem ini berfungsi untuk memastikan keselamatan operasional dengan mencegah gangguan kinerja yang diakibatkan oleh kelelahan.
Strategi Jangka Panjang AirNav Indonesia
Kerjasama strategis antara AirNav Indonesia dan ICAO ini direncanakan akan berlangsung selama tiga tahun. Tujuan utama dari kolaborasi ini adalah untuk mendukung AirNav Indonesia dalam membangun kerangka kerja Fatigue Risk Management System (FRMS) yang berkelanjutan, serta meningkatkan keselamatan dan efisiensi layanan navigasi penerbangan di Indonesia.
Dengan adanya kerjasama ini, AirNav Indonesia tidak hanya berupaya untuk memperkuat kapabilitas internal, tetapi juga berkomitmen untuk berkontribusi pada keselamatan penerbangan di tingkat global. Keterlibatan dalam proyek-proyek internasional semacam ini diharapkan dapat menjadikan AirNav Indonesia sebagai salah satu pemimpin dalam pengelolaan navigasi udara yang berstandar internasional.
Dalam era di mana keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama, langkah-langkah yang diambil oleh AirNav Indonesia menunjukkan dedikasi tinggi dalam meningkatkan kualitas layanan. Dengan dukungan ICAO, AirNav Indonesia berambisi untuk tidak hanya memenuhi standar internasional, tetapi juga menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam pengelolaan risiko kelelahan dan keselamatan penerbangan.
➡️ Baca Juga: Kepala Junta Myanmar Min Aung Hlaing Resmi Menjadi Presiden Negara
➡️ Baca Juga: Persiapkan Arus Balik: 5 Pengecekan Penting Motor Sebelum Kembali ke Kota




